www.jakarta.go.id

Pemprov DKI Jakarta Revitalisasi Lapangan Banteng Menjadi Destinasi Wisata

Pemprov DKI Jakarta Revitalisasi Lapangan Banteng Menjadi Destinasi Wisata

lapangan bantengPelaksana Tugas Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Sumarsono meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pengerjaan revitalisasi Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Sumarsono yakin nantinya Lapangan Banteng hasil revitalisasi akan menjadi salah satu primadona masyarakat untuk menghabiskan waktu dengan berbagai aktifitas karena didukung dengan ketersediaan fasilitas yang memadai. “Lapangan Banteng akan kami tata sebagai kawasan olahraga bagi anak muda” ujar Sumarsono dalam sambutannya. Pelaksanaan pekerjaan revitalisasi Lapangan Banteng diharapkan akan selesai sebelum ASEAN GAMES 2018.

Keputusan ground breaking revitalisasi Lapangan Banteng, Jakarta Pusat diambil oleh Plt. Gubernur Prov. DKI Jakarta, Sumarsono saat memimpin rapat pimpinan (rapim) hari Senin (13/3), usai mendengarkan paparan yang disampaikan oleh Kadis Kehutanan Prov. DKI Jakarta, Djafar Mukhlisin mengenai master plan revitalisasi Lapangan Banteng. Penyusunan master plan revitalisasi ruang terbuka hijau Lapangan Banteng telah melewati proses panjang dalam berbagai sidang yang diketuai oleh Tim Sidang Pemugaran (TSP) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam master plan tersebut, akan diperkuat kedua sumbu timur barat dan utara selatan sesuai dengan konsep yang diusung oleh arsitek pertama Lapangan Banteng yaitu Frederich Silaban, ditambah dengan keberadaan 8 (delapan) titik bukaan. Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan PT. Han Awal and Partners Architect dalam membuat master plan revitalisasi Lapangan Banteng.

Pengerjaan revitalisasi Lapangan Banteng yang memiliki luas lebih kurang 10 (sepuluh) hektar nantinya akan terbagi kedalam tiga zona yang meliputi pengerjaan pembangunan pagar, pengerjaan pembangunan lapangan olahraga, pengerjaan perbaikan Monumen Irian Barat dan pengerjaan taman. Berikut informasi lengkap pembagian zona pengerjaan:

•Zona satu merupakan zona utama dari lapangan banteng yaitu zona Monumen Pembebasan  Irian Barat. Zona utama ini akan diperkuat dengan bangunan berbentuk setengah lingkaran yang difungsikan sebagai amphiteater dilengkapi dengan kolam dan pelataran yang difungsikan untuk berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan seperti konser musik, fashion show dan lain sebagainya. Selain itu akan dibagun juga Bangunan Bendera yang merupakan bangunan penunjang linear yang mempertegas keberadaan Monumen, dimana selain dipakai untuk meletakan bendera pada acara kenegaraan juga akan difungsikan sebagai service area antara lain toilet, Mushola, ruang pengelola, food court, dan lain sebagainya;

•Zona dua merupakan zona olah raga yang akan terbuka selama 24 jam bagi seluruh warga Jakarta, dimana area ini mempertegas Ruang Terbuka Hijau sebagai area resapan kota namun fungsi di dalamnya dapat digunakan masyarakat untuk berolah-raga (tersedianya lapangan sepakbola, lapangan basket dan lapangan serbaguna) dan berekreasi karena dilengkapi juga dengan children play ground;

•Zona tiga merupakan zona taman. Dalam pengerjaannya akan tetap mempertahankan pohon-pohon yang telah ada dengan kembali mempertegas konsep ruang terbuka hijau. Zona tersebut dapat fungsinya untuk tempat berbagai aktifitas publik.

Lapangan Banteng merupakan lapangan bersejarah yang sangat penting bagi Jakarta dan Indonesia yang merupakan lapangan terpenting ke-2 setelah Monumen Nasional. Lapangan ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI sebagai taman umum sejak tahun 1981. Meski demikian, keberadaan lapangan ini bagaikan sosok dalam Monumen Pembebasan Irian Barat yang terletak di dalamnya; patung yang kesepian di tengah keramaian. Lapangan Banteng, dahulu bernama Waterlooplein yang berarti lapangan yang terletak di Weltevreden, Batavia dan kemudian pada tahun 1632 tanah tersebut dibeli oleh Anthony Paviljoen kemudian dikenal sebagai Lapangan Pavijoen.  Pada tahun 1828 untuk mengenang pertempuran Waterloo pada masa kolonial Belanda, dibangunlah Patung Singa dan dikenal dengan sebagai Lapangan Singa namun patung ini dirobohkan saat Indonesia diduduki Jepang. Pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, namanya diganti menjadi Lapangan Banteng karena kemungkinan pada zaman dahulu tempat yang kini menjadi lapangan itu dihuni berbagai macam satwa liar.

Sebagai informasi, Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng dibangun oleh Presiden Soekarno untuk menggambarkan seseorang yang berhasil memutus rantai. Dengan konteks perjuangan membebaskan wilayah Irian Barat yang saat ini  dikenal sebagai Papua, monumen tersebut bermakna kebebasan dari belenggu penjajah. Monumen ini terletak secara strategis di pintu gerbang, namun secara keseluruhan keberadaan Lapangan Banteng saat ini seperti patung yang kesepian di tengah keramaian. Oleh karena itu tugas Pemprov DKI Jakarta untuk mengembalikan makna dan fungsi kawasan yang termasuk kedalam cagar budaya ini. #jakartakini

 

 lapangan banteng 2 

Sumber : jakarta.go.id