KEIMIN BUNKA SHIDOSO

Minggu, 01 Januari 2017 00:00 WIB

Sebuah lembaga kebudayaan bentukan pemerintah kolonial Jepang yang khusus bekerja untuk mengasah ketrampilan dan memperluas wawasan kesenian bangsa Indonesia. Disingkat KBS, lembaga ini menawarkan kebijakan yang kompleks dan tendensius, membangun Kebudayaan Timur untuk memajukan bangsa Asia Timur Raya, yang ujungnya adalah untuk mencapai kemenangan terakhir dalam peperangan. Dalam organisasi ini, Agus Djaja ditunjuk sebagai ketua bidang seni rupa; untuk film dan drama ditunjuk Usmar Ismail; seni sastra diketuai Armijn Pane; sedangkan seni tari dan suara oleh Ibu Sud.

Di bidang seni rupa, terdapat empat rencana kerja, yaitu: (a) menyediakan tempat untuk latihan melukis bersama; (b) menyediakan tempat untuk pameran bersama; (c) memberikan biaya untuk pameran keliling di kota-kota besar di Indonesia, dengan menyediakan hadiah atau penghargaan untuk lukisan yang dianggap baik; dan (d) menyelenggarakan kursus menggambar secara teknis akademis dengan pengasuh yang telah ditunjuk (dalam hal ini Basoeki Abdullah). Dalam kenyataannya, rencana tersebut dapat berjalan dengan baik, sehingga selama masa penjajahan Jepang yang singkat dan berat itu, dunia seni lukis Indonesia justru memperoleh peluang berkembang. Dalam 3,5 tahun, diselenggarakan puluhan pameran yang berlangsung meriah di tempat khusus atau hanya di pasar malam (rakutenci), dan biasanya disertai pemberian penghargaan seni lukis terbaik.

Beberapa orang Jepang yang pernah tercatat sebagai guru atau pengarah di KBS adalah Saseo dan Ono, keduanya biasa membuat reklame pada Barisan Propaganda Jepang atau Sendenbu. Yang lain adalah Yamamoto dan Yoshioka, yang biasa melukisdalam gaya realis eskpresionis atau bahkan impresionistik. Para pelukis Indonesia yang tercatat dalam KBS adalah Emiria Sunassa, Henk Ngantung, Agus Djaja Suminta, Kartono Yudokusumo, Dullah, Basuki Resobowo, Sudiardjo, Otto Djaja, Subanto, Abdulsalam, Suyono, Surono, Siauw Tik Kwie, Ong Lian Hong, Tan Sun Tiang, Liwem Wan Gie, Harijadi S, Tan Liep Poen, Sukardi, Affandi dan S. Tutur. Nama terakhir ini amat dikenal sebagai pembuat poster yang aktif dan baik. Sehingga kelak kemudian hari, namanya diabadikan sebagai nama tropi untuk hadiah bagi para pencipta poster terbaik pada Festival Film Indonesia.