MALARI, PERISTIWA

Minggu, 01 Januari 2017 00:00 WIB

Kerusuhan di Jakarta tanggal 15-16 Januari 1974, yang diawali adanya aksi para mahasiswa yang kemudian ditunggangi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dilatarbelakangi oleh berbagai hal menyangkut kondisi dalam negeri, antara lain: kritik terhadap kinerja pemerintah, DPR, dwifungsi AERI, lembaga Kopkamtib, kerap dilontarkan para mahasiswa dan tokoh oposisi pemerintah. Suhu politik semakin memanas dengan adanya pembahasan RUU Perkawinan oleh wakil rakyat yang ditentang sebagian golongan Islam. UU ini disahkan DPR dalam sidang paripurna tanggal 22 Desember 1973. Apalagi pemberitaan yang diulas kalangan pers mudah memancing emosi masyarakat. Kedatangan PM Jepang Kakue Tanaka, juga menimbulkan reaksi keras mahasiswa yang menggelar demonstrasi besar-besaran di Istana Merdeka, hingga berubah jadi tindakan anarki, antara lain pembakaran toko-toko, show room mobil dan motor buatan Jepang. Para penjahat pun memanfaatkan situasi ini dengan melakukan tindakan pencurian dan perampokan, puncaknya adalah pembakaran proyek Pasar Senen sebagai salah satu pusat perdagangan besar di ibukota.

Pemerintah mengambil tindakan tegas mengatasinya, antara lain dengan mengerahkan kesatuan-kesatuan KKO, RPKAD, dan Kostrad. Korban yang jatuh: 11 orang meninggal, 17 orang luka berat, 120 orang luka ringan dan sekitar 770 orang ditahan. Diberitakan juga kerugian berupa 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak atau dibakar, 144 gedung dirusak. Jam malam pun akhirnya diberlakukan di Jakarta mulai pukul 18.00-06.00. Semua universitas dan sekolah juga ditutup.

Akibat Peristiwa Malari, para pemimpin mahasiswa ditangkap, antara lain Hariman Siregar, Sjahrir dll. Selain itu lembaga Aspri Presiden ditiadakan, Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro mengundurkan diri dan jabatan dipegang langsung oleh presiden. Letjend Soetopo Joewono digantikan Mayjend Yoga Soegama sebagai Kepala Bakin. Beberapa surat kabar dan mingguan juga disebut surat izin terbitnya, antara lain harian Nusantara, harian KAMI, Indonesia Raya, Abadi, The Jakarta Times, Mahasiswa Indonesia, Pedoman, mingguan Wenang dan Ekspres.