MARDIJKER

Minggu, 01 Januari 2017 00:00 WIB

Sebutan untuk penduduk Jakarta dari golongan orang-orang keturunan Portugis, berasal dari India, dan penduduk Indonesia lain yang beragama Katolik. Mereka umumnya adalah para tawanan yang dijadikan budak-belian oleh Belanda. Kebanyakan sebagai pembantu tukang-tukang Belanda untuk membuat meubelair yang dibawa bersama Kompeni. Mereka dijanjikan akan diberikan kebebasan dengan syarat mau menjadi anggota Gereja Refomasi, gereja bagi penganut agama Kristen, oleh karena itu mereka disebut Mardijker atau "orang yang dimerdekakan" . 

Mardijker berasal dari bahasa Sansekerta maharddhika, maharika, atau grootmachligyang secara harfiah berarti "bebas dari perbudakan" atau "mempunyai kekuasaan besar". Di Batavia dan Maluku digunakan untuk menunjuk sekelompok masyarakat yang secara etnis sangat beragam, yang dibentuk oleh keturunan bekas budak yang berasal dari Angola atau India dan keturunan perkawinan campuran Portugis dan orang Eropa lainnya sepanjang abad ke-16. Di Maluku (Ambon, Ternate) mendapat sebutan "Swarten Christenen", merupakan sisa dari produk kontak Portugis di wilayah Indonesia Timur yang umumnya kemudian dikenal sebagai kaum Mardijkers yang berbahasa Portugis.

Secara yuridis orang Mardjiker disamakan dengan Burgers, artinya 'penduduk kota', dan banyak diantaranya yang bekerja sebagai klerk dan sekretaris di pemerintahan hingga pertengahan abad ke-19. Di Batavia orang Mardijker masih berada pada posisi pegawai bawahan, yang diterima namun direndahkan, dan selalu ditekan oleh kelompok kecil orang "yang berdarah murni" Eropa.

Mereka menggunakan bahasa Belanda atau Portugis (bahasa pergaulan). Untuk membedakannya dengan Pribumi dan para budak, kaum mardijkers mengenakan pakaian ala barat dengan topi, dan jika mereka punya cukup uang masih ditambah dengan kaos kaki serta sepatu. Orang mardijkers menganggap dirinya keturunan Portugis sehingga sering menirukan kebiasaan mereka. Namun pada hakekatnya, orang-orang ini tidak mempunyai setetespun darah Eropa. Namun masyarakat pun menyebut Pribumi yang beragama Kristen sebagai orang Portugis. Hal ini juga terjadi pada orang Bali yang beragama Kristen dan menetap di Depok, di sebelah selatan Jakarta.

Kelompok mardijkers ada juga yang berasal dari sekitar Manila (Filipina) dan disebut sebagai orang Papango. Bersama dengan penduduk dari Banda dan Moro, mereka dijadikan pasukan Kompeni. Orang- orang Belanda yang datang ke Batavia tanpa istri biasanya mengambil pasangan dari golongan mardijkers. Orang Mardijker kebanyakan hidup berkelompok dan tinggal di sekitar Gereja Portugis. Perkembangan selanjutnya golongan Mardijker lenyap, kecuali beberapa marga di Tugu (Jakarta Utara) dan mereka yang pindah antara lain ke Pejambon di belakang Gereja Imanuel.