PIARE CALON NONE PENGANTIN

Kamis, 03 Agustus 2017 00:00 WIB

Masa dimana calon pengantin wanita dirawat atau dipiare selama seminggu atau sepuluh hari, dilakukan oleh seorang wanita yang khusus menangani hal tersebut. Selama dirawat calon pengantin tersebut minum jamu pengantin, dan air secang, memakai lulur serta menjalani beberapa pantangan, misalnya tidak boleh menukar pakaian, makan goreng-gorengan dsb, semua ini dimaksudkan agar calon pengantin di Betawi tersebut menjadi singset atau langsing, sehingga kelihatan lebih cantik, bercahaya wajahnya/kulitnya pada waktu dirias.

Pada masa itu ada kebiasaan bahwa calon pengantin sebelum siraman, giginya dipapat (diratakan), hal ini di kemudian hari sudah tidak dijalankan lagi. Papat dimaksudkan untuk mempercantik calon pengantin tersebut sehari sebelum hari pernikahan atau pagi harinya.

Sebelum upacara mandi, calon pengantin meminta izin orang tuanya dengan menemuinya dan mencium tangannya, dengan mengenakan kemben serta kebaya tipis, rambut disanggul biasa dan mengenakan kerudung tipis. Adapun yang memandikan hanya tukang piare pengantin (kecuali ada permintaan lain dari pihak keluarga, misal Tlya disertakan juga beberapa orang tua), sedangkan yang lain hanya menyaksikan saja.

Adapun perlengkapannya adalah: 1) Kembang 7 rupii (setaman); 2) Paso tanah; 3) Gayung batok; 4) Pedupaan dengan setanggi/gahru yang diletakkan di bawah bangku tempat pengantin duduk. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan oleh keluarga pengantin, pakaian bekas mandi diberikan kepada tukang Piare Pengantin sebagai hadiah.

Setelah upacara mandi, pengantin menjalani upacara tangas atau kum (semacam mandi uap) untuk membersihkan bekas-bekas dari pori-pori dan membuat kulit pengantin menjadi wangi serta tidak mengeluarkan keringat pada waktu di rias. Peralatannya adalah: 1) Kembang 7 rupa (kembang setaman) serta ramuan lainnya seperti: daun jeruk purut, daun pandan, akar wangi, daun mangkok dll; 2) Paso tanah; 3) Kursi rotan bolong-bolong; 4) Tikar atau kain penutup.

Kemudian dilakukan upacara cukuran untuk membersihkan bulu-bulu kalong pada kening, pelipis dagu, tengkuk. Cukuran dilaksanakan di dalam kamar pengantin. Adapun peralatannya, sebagai berikut: 1) Kain putih lebih 2 m untuk alas; 2) Kembang 7 rupa (kembang setaman); 3) Air putih dicawan dengan sekuntum bunga mawar atau lainnya untuk tempat gunting; 4) Pedupaan; 5) Alat cukur; 6) Uang logam ratusan untuk batas centung (satu kali lipatan) dan untuk batasan mencukur anak rambut; 7)Tempat sirih komplit.