VAUX-HALL

Senin, 12 Agustus 2019 00:00 WIB

Merupakan pesta orang-orang Eropa di Betawi sekitar tahun 1860-1865. Biasanya diselenggarakan di societet atau soos yang oleh rakyat jelata biasa disebut 'rumah bola'. Kaum perempuan datang dengan mengenakan pakaian panjang, leher tinggi dan lengan lebar. Mereka memakai perhiasan dari koral merah atau akik. Kaum prianya memakai jas laken hitam yang panjangnya sampai lutut, dengan kerah runcing dan mencuat. Para perwira datang dengan pakaian seragam mereka. Mereka berdansa dengan iringan musik wals Johann Strauss, Lanner, Julien, dan Metra sampai larut malam.

Menurut Lord George Macartney (duta Inggris untuk Cina) yang pernah singgah di Batavia, pada umumnya semua nyonya dan gadis-gadis Belanda saat acara pesta dansa mengenakan pakaian istimewa. Tata rambut bergaya Batavia, kecuali beberapa orang yang baru datang dari Holland. Rambut mereka biasanya amat gelap, tidak pernah dibedaki, disisir licin ke belakang, dihiasi tusuk sanggul besar berhias intan. Di belakang tusuk sanggul terdapat jalinan rambut. Bentuknya bermacam-macam, begitu pula batu-batu permata yang menghiasinya, ada yang diuntai menjadi rantai, berbentuk bintang dan bulan sabit, kitiran angin dan kupu-kupu bahkan juga pesawat terbang. Sedangkan para gadis berpakaian cara Melayu. Saat acara pesta dansa pakaian mereka sangat istimewa dan tampak bebas. Menurut J. Barrow dalam Voyage to Cochin-China, saat pesta dansa banyak di antara wanita-wanita Belanda mengganti pakaiannya yang berlapis-lapis dengan kain tipis berwiru-wiru.

Pesta semacam ini biasanya merupakan arena pertemuan muda-mudi untuk mencari jodoh. Para pemuda yang pandai berdansa disanjung-sanjung dan diperebutkan gadis-gadis. Pada masa itu di kalangan atas muncul anggapan bahwa suami yang pantas adalah ia yang pandai berdansa. Pada bagian pesta dansa terdapat acara souper, yaitu berupa acara makan larut malam, terutama antara pejabat Inggris dan Belanda. Dahulu di Batavia dansa-dansi dimulai pukul 21.00 dan diselingi untuk souper. Pada saat itulah hubungan akrab antara pejabat dua negara tersebut dikokohkan dengan toast berulang-ulang.