VIERKANT

Senin, 12 Agustus 2019 00:00 WIB

Bangunan atau gedung tambahan untuk menerima tamu, disebut juga Huis van Generalen ontvang,semacam benteng kecil di atas tanah yang disebut Papep Jan,s Land. Terletak di sebelah barat Sungai Ciliwung, di samping Benteng "Zeelandia". Di tahun 1619 digunakan untuk pos pabean di Jayakarta dan dilengkapi meriam untuk menjaga mulut Ciliwung. Di sini juga terdapat gedung bea cukai dengan sebuah batang. Batang tersebut melintas di atas sungai untuk menutupinya. Batang tersebut baru dibuka setelah bea cukai dilunasi. Seterusnya terdapat bengkel-bengkel kayu untuk kapal-kapal dan perahu-perahu. Bagian barat Kota Batavia dibangun oleh Antonia Van Diemen, seperti Vierkan, bea cukai dan batangnya.

Di kalangan tentara Belanda pada abad ke-19 daerah Vierkant adalah kesan pertama yang buruk sekali. Setelah merapat tentara yang baru datang dari negeri Belanda harus menunggu berjam-jam di daerah ini yang berbau busuk dalam hawa yang panas dan akhirnya serdadu-serdadu masih dipaksa berjalan kaki sampai di Waterlooplein. Bangunan Vierkant yang letaknya melintang, terjadi karena dibangun di atas tanggul terusan/kanaal yang akhirnya tidak dipergunakan lagi. Menurut undang-undang gereja dari tahun 1643 terdapat sebuah gereja kecil di daerah ini. Fungsi bangunan-bangunan di dalam komplek Vierkant ini tidak begitu jelas, akan tetapi telah diketahui bahwa pegawai-pegawai kantor bea cukai tinggal di sini. Pada tahun 1656 bangunan Vierkant diperkuat lagi dengan 2 (dua tembok yang masing-masing menjurus ke arah tenggara dan timur laut).

Daerah Vierkant menjadi terkenal di Kota Batavia, karena perkelahian-perkelahian di antara pelaut-pelaut Belanda. Pada tahun 1665 Kota Batavia sering dilanda banjir dan tahun 1780 Vierkant dikatakan kadang-kadang tenggelam kalau air laut lagi pasang. Dari segi kesehatan daerah Vierkant (dan Ancol) merupakan daerah yang dapat dikatakan buruk. Rumah-rumah di Vierkant dan pos-pos penjagaan Culemborg dinilai tidak dapat dihuni. Tahun 1760 situasi daerah Vierkant pada malam hari sepi sekali, karena kebanyakan pegawai yang bekerja di daerah ini pulang ke rumah mereka yang kedua, kebanyakan letaknya di Jalan Gajah Mada/Hayam Wuruk. Daerah Vierkant tetap dianggap membahayakan kesehatan, sehingga rumah-rumah didaerah tersebut tidak dilengkapi dengan tempat-tempat tidur. Pada tahun 1790 terdapat julukan daerah tanpa penghuni" atau "jalan tanpa penghuni". Lokasi Vierkant tempatnya di kemudian hari dipakai untuk kompleks pertokoan di Jalan Ekor Kuning. Orang Betawi tetap menyebutnya "pabean".