VILLA NOVA

Senin, 19 Agustus 2019 00:00 WIB

Sebuah tanah partikelir yang terletak di afdeling Meester Cornelis. Tanah Villa Nova dimiliki oleh keluarga Lady Rollinson. Tidak diketahui apa asal perempuan itu. Tetapi melihat namanya, berasal dari Inggris. Berdasarkan Staadsblad tahun 1870 orang Eropa diperbolehkan memiliki tanah di Hindia Belanda, baik untuk pertanian atau perkebunan. Di tanah itu hanya terdapat rumah-rumah peranginan yang besar, dengan kebun buah-buahan di sekitarnya. Villa Nova pernah menjadi berita besar, karena muncul dalam Bintang Betawi, disebutkan pemilik tanah tersebut bermaksud membuka usaha penambangan emas di Villa Nova. Karena besarnya biaya yang diperlukan untuk melaksanakan usaha itu, dia akan mendirikan satu maatsehappij. Menurut pemilik Villa Nova itu, siapa saja yang bermaksud ambil andil dari maatsehappij itu bisa meminta keterangan dan boleh datang menyaksikan sendiri keadaannya tanah tersebut, dengan membayar 50 gulden satu orang.

Berita penemuan emas di Villa Nova itu makin mengundang perhatian, berkat pernyataan Bintang Betawi yang sangat provokatif: "Siapa yang mau jadi kaya, sebaiknya lekas datang di Villa Nova. Jangan pandang itu uang 50 gulden." Di awal abad ke-20 penambangan emas merupakan hal yang menggiurkan di Hindia Belanda, selain pengeboran minyak. Ini terjadi setelah di Residensi Bengkulu ditemukan tambang emas, yang kemudian berhasil mendongkrak keuangan pemerintah kolonial yang nyaris bangkrut. Setelah perbudakan dihapuskan pada tahun 1850-an, tanah-tanah partikelir banyak yang terbengkalai. Bekas budak-budak itu tidak mau lagi bekerja mengolah tanah. Para petani setempat juga menolak bila ditawari bertani di tanah partikelir akibat pajak yang dibebankan kepada mereka sangat tinggi.

Sebagian besar orang yang datang di Villa Nova itu sebenarnya hanya ingin membuktikan, benarkah terdapat emas di dalam tanah partikelir itu. Tapi banyak juga orang-orang Cina yang memang berniat menaruh andil di maatschappijyang akan dibentuk pemilik Villa Nova. Orang-orang Cina itu merasakan lesunya dunia dagang belakangan ini, sehingga mencari bisnis baru yang menguntungkan. Selain pedagang Cina, ada juga pembesar kompeni yang datang. Tak pelak lagi mereka adalah pembesar yang kelebihan uang hasil korupsi.