WAHID HASYIM

Selasa, 08 Oktober 2019 00:00 WIB

Negarawan dan tokoh Islam. Lahir di Jombang tahun 1914 dan meninggal 19 April 1959. dibesarkan di lingkungan pesantren. Ayahnya K.H. Hasyim Asy'ari, mempunyai sebuah pesantren di Tebu Ireng. Jombang. Di Pesantren itu ia belajar agama, kemudian di pesantren-pesantren lain. Sesudah itu, ia mengajar di pesantren Tebu Ireng membantu ayahnya. Membaca huruf Latin dan menulis dipelajarinya sendiri. Karena itu, ia dapat membaca buku-buku ilmu pengetahuan, sehingga pengetahuannya bertambah luas. Sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), ia masuk dalam Sub-komite BPUPKI yang dibentuk untuk mencari jalan keluar terbaik bagi masa depan bangsa. Saat itu memang BPUPKI, badan bentukan Jepang ini, bertugas mempersiapkan bentuk dan dasar negara.

Subkomite BPUPKI akhirnya berhasil merumuskan dasar negara. Hasil kesepakatan yang dikenal dengan nama Piagam Jakarta itu lantas dicantumkan dalam preambul UUD 1945 yang disahkan pada 22 Juni 1945. Dalam salah satu alinea hasil rumusan Wahid Hasyim dan kawan-kawan, antara lain tercantum kata-kata " .. .kewajiban menjalan-kan syariat Islam bagi pemeluknya". Rumusan ini diperdebatkan dalam sidang BPUPKI berikutnya. Wongsonegoro, misalnya, menganggap bahwa anak kalimat itu bisa menimbulkan fanatisme karena seolah-olah memaksa umat Islam menjalankan syariatnya. Tetapi menurut Wahid Hasyim, putra tokoh pendiri NU K.H. Hasyim Asy'ari ini, kalimat tersebut tidak akan berakibat sejauh itu. Ia juga mengingatkan bahwa segala perselisihan yang timbul bisa diselesaikan secara musyawarah.

Pemikirannya juga sempat mewarnai rancangan pertama UUD. Ia pernah mengusulkan agar pada Pasal 4 ayat 2 rancangan UUD disebutkan bahwa yang dapat menjadi Presiden dan wakilnya adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam. Selain itu, pada Pasal 29, Kiai Wahid Hasyim menginginkan rumusan sebagai berikut: "Agama Negara adalah Islam dengan menjamin kemerdekaan bagi orang-orang yang beragama lain untuk beribadat menurut agamanya masing-masing. " Alasannya jika presidennya Islam, perintahnya akan dengan mudah dipatuhi rakyat yang mayoritas muslim. Selain itu, Islam sebagai agama negara mendorong umat Islam berjuang membela negaranya. Dengan alasan itulah akhirnya, gagasan mantan Ketua Masyumi itu diterima BPUPKl.

Ia menjadi Menteri Agama di tiga periode pemerintahan: Kabinet RIS (Desember 1949-Desember 1950), Kabinet Mohammad Natsir (September 1950- April 1951), dan Kabinet Sukiman (April 1951-April 1952). Dijaman Wahid Hasyim, Departemen Agama merniliki visi dan misi yang jelas. Di bawah kepemimpinannya, NU menyatakan keluar dari Masyumi pada 1952. Selanjutnya, NU berkibar sendiri sebagai partai politik. Dalam Pemilu 1955, NU termasuk empat partai yang memperoleh suara terbanyak. Di Jakarta, namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat.