WAYANG, MUSEUM

Kamis, 31 Oktober 2019 00:59 WIB

Museum yang berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru. Terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta. Diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta H. Ali Sadikin. Tujuan utama pembangunan Museum Wayang adalah untuk membina kebudayaan nasional dan karakter bangsa Indonesia. Fungsi museum ini untuk menyimpan, merawat dan mempergunakan wayang dari berbagai wilayah di Indonesia maupun dari luar negeri.

Menyimpan koleksi batu-batuan, perabot rumah tangga dan gambar-gambar dari masa lalu yang berkaitan dengan Jakarta. Museum tersebut didirikan sehubungan dengan timbulnya kesadaran masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya masyarakat pecinta wayang, bahwa seni budaya yang tinggi dan kaya nilainya itu, tidak hanya untuk dimiliki saja tetapi juga harus terpelihara, dikembangkan dan dibina serta dimanfaatkan untuk bangsa dan negara.

Gedung Museum Wayang merniliki ciri arsitektur Barat {Eropa) dengan dinding tembok yang tebal, langit-langit yang tinggi, daun jendela atau pintu jendela lebar-lebar dan pintu yang terbuat dari kayu jati yang masif. Tediri dari dua lantai, bagian bawah dipergunakan untuk kegiatan kantor museum dan sekretariat Yayasan Nawangi. Di tengah-tengah ruangan terdapat taman yang tenang, mengenangkan pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda yang dikuburkan di tempat tersebut. Terlihat juga sebuah dinding tinggi dari batu bakar berwarna kecoklatcoklatan dan dikedua sisinya tercantum nama-nama gubernur-gubernur jenderal yang pernah dikuburkan.

Museum Wayang menempati sebuah bangunan tua bergaya Eropa, yang dahulu merupakan gereja bagi orang Belanda di Indonesia, dan dipugar sekitar tahun 1736 menjadi bangunan gereja baru. Kemudian bangunan gereja itu dibeli oleh suatu perusahaan Belanda dan dijadikan gudang. Gudang ini kemudian dibeli kembali oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan museum, karena di dalam bangunan itu terdapat kuburan beberapa pejabat tinggi Belanda dan beberapa benda peninggalan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang memerintah dari tahun 1618-1622 dan 1627-1629. Pada tahun 1937 gedung ini berubah menjadi museum, dan dinamakan Museum Oud Batavia. Setelah Kota Batavia berkembang menjadi Jakarta, koleksi di Museum Oud Batavia dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta, yang letaknya berseberangan dengan museum sebelumnya. Atas prakarsa Gubernur Ali Sadikin, Museum Batavia Lama ini dijadikan Museum Wayang.

Di taman Museum Wayang juga terdapat batu nisan Gubernur Jenderal Abraham Patras dan Willem van Outhoorn bersama isterinya Elisabet van Heyningen. Terdapat juga batu nisan dengan lambang halus dari bekas gubernur Formosa, yaitu Cornelis Cesaer beserta isterinya Anna Ooms, kemudian batu sederhana Maria Caen dan saudara laki-lakinya Anthoni Caen. Disamping itu masih terdapat batu nisan lainnya yang telah dipindahkan ke bekas kuburan yang kemudian menjadi Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang. Beberapa diantaranya ditandai HK singkatan dari Hollandse Kerk atau Gereja Belanda. Di seberang taman terdapat kuburan Jan Pieterzoon Coen yang meninggal pada tahun 1634 serta pembantu-pembantunya.