YAP THIAM HIEN

Jumat, 15 November 2019 00:00 WIB

Satu tokoh Tionghoa penting dalam Baperki (Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia) dan LPKB (Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa). Lahir di Kotaradja (Banda Aceh) pada 25 Mei 1913 dari keluarga Leutenant der Chinezen dan meninggal 23 April 1989 ketika sedang menghadiri sidang INGI di Belgia. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di ELS Kutaradja, ia ikut ayahnya ke Batavia dan masuk MULO. Karena sulit mendapatkan pekerjaan akibat depresi ekonomi pada 1933, ia masuk sekolah guru di HCK di Meester Cornelis (Jatinegara). Dalam waktu 1 tahun ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan pekerjaan sebagai penjual jasa langganan telepon sambil mengajar dan memutuskan untuk belajar Hukum di Rechts Hoge School (RHS).

Pada 1938, setelah bertahun-tahun mempertimbangkannya, ia beralih ke agama Kristen Protestan dan bergabung dengan gereja reformis untuk etnis Tionghoa. Setelah PD II usai ia memutuskan untuk pergi ke Belanda dan masuk di Fakultas Hukum Universitas Leiden yang diselesaikannya pada 1947. Setelah selesai ia memperdalam pengetahuan agama. Pada awal 1949 ia kembali ke Jakarta dan menikah dengan Ten Gien King, gadis yang dijumpainya selama masa pendudukan Jepang. Pada awalnya ia bekerja di gereja sebagai pengacara muda. Baru pada akhir 1949 ia bergabung dalam sebuah law firm bersama-sama Tan Po Goan dan Oei Tjoe Tat, kemudian pada 1970 ia mendirikan law firm-nya sendiri. Selain aktif di gereja, ia juga aktif di lembaga hukum Sin Ming Hui dan pada 1954 ikut mendirikan Baperki. Ia terpilih sebagai Wakil Ketua Umum Baperki sampai ia mengundurkan diri dalam Kongres di Semarang 1960, karena berbeda pandangan politik dengan pengurus lainnya, terutama dengan Ketua Umum Siauw Giok Tjhan mengenai konsepsi Presiden Soekarno untuk kembali ke UUD 1945. Yap Thiam Hien Berpendapat UUD 1945 adalah UUD yang memusatkan kekuatan politik pada presiden dan bertentangan dengan hak asasi manusia.

Ia adalah seorang Kristen yang sangat gigih mempertahankan pendiriannya berdasarkan Kitab Injil, menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendidikan Gereja Indonesia dari 1950-1957. Menjadi tokoh kontroversial ketika pada masa pemerintahan Soekarno bersedia menjadi pembela Liem Koe Nio, seorang jutawan pentolan Kuomintang. Kembali namanya disebut ketika melakukan pembelaan brilyan atas Dr. Soebandrio, mantan Wakil Perdana Menteri kabinet Soekarno pada Sidang Mahmilub 1966. Pada 1968 ia ditangkap dan ditahan selama beberapa minggu, karena menuduh jaksa dan polisi memerasnya. Ia kemudian digugat oleh dua orang petugas, tetapi oleh Mahkamah Agung dilepas dan dibebaskan dari tuduhan. Setelah kerusuhan Malari 1974, ditahan selama setahun dan menolak menerima konsesi apapun. Selama akhir 1960-an ia diangkat menjadi pengurus Dewan Gereja-Gereja Dunia dan Komisi Internasional Ahli Hukum. Ia juga aktif di Perhimpunan Advokat Indonesia atau Peradin dan Asosiasi advokat Indonesia (AAI). Pada tahun 1970 ketika atas prakarsa Peradin, Adnan Buyung Nasution mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), ia sebagai pengacara senior memberikan dukungan penuh. Ia juga menjadi anggota Intemational Commision of Jurist (Geneva) dan pada 20 September 1980 ia memperoleh gelar Doktor Honoris Causa di bidang hukum dari Vrije Universiteit, Belanda.