CINA, ORANG

Minggu, 01 Januari 2017 00:00 WIB

Salah satu kelompok etnik yang pertama kali berdiam di Batavia. Di Pulau Jawa, orang-orang Cina sebagai pekerja terkenal sangat rajin dan trampil. Tiap tahun perahu-perahu Cina datang di Batavia membawa barang dagangan: teh, sutera, porselin, dan sebagainya. Selain itu mereka mengangkut orang-orang Cina dalam jumlah cukup besar. Di Batavia biasanya mereka mencari nafkah dengan membuka toko-toko, pengolahan gula dan arak, warung-warung kopi, dan rumah-rumah makan. Mereka menjadi pendayung sampan di sepanjang sungai-sungai dan terusan-terusan, penjaja barang dan membuka toko kelontong. Dalam bidang obat-obatan, mereka juga mempunyai keahlian. Salah seorang ahli pengobatan Cina yang beragama Kristen bernama Issae. Konon ia memperoleh 10 real perbulan sebagai dokter dalam dinas Kompeni, karena di samping sebagai seorang pejabat, ahli mengobati juga membuka usaha penyulingan arak. Obat-obatan yang dikenal pada zaman itu yang dipakai oleh orang-orang Cina adalah obat rematik.

Orang Cina perantau gelombang pertama dilarang membawa serta perempuan-perempuan ke luar negeri, karena itu kemudian muncul kawin campur yang melahirkan cina-peranakan. Adapun orang Cina perantauan pertama berasal dari Hokkien, Propinsi Fukien. Disusul dari Propinsi Kwan-tung. Orang Cina perantauan yang berasal dari Canton disebut Punti, merupakan suatu kelompok kecil yang tinggal di Kwitang, Batavia. Dalam perdagangan di masa kolo-nial, orang-orang Cina dijadikan perantara antara penduduk pribumi yang mayoritas dengan orang Belanda yang minoritas, untuk itu mereka diberi kesempatan berdagang. Mereka juga diberi fasilitas untuk memegang monopoli garam, pelaksana rumah pegadaian, dan memungut pajak.

Tetapi ada pembatasan-pembatasan yang dilakukan Kompeni terhadap orang Cina, antara lain tidak dibenarkan memiliki tanah dan dibatasi ruang geraknya. Apabila mereka bepergian dari suatu tempat ke tempat lain harus memiliki surat pas atau surat jalan. Mereka hanya boleh tinggal di tempat-tempat tertentu (Glodok, Pecinan, dan lain-lain). Kompeni mengeluarkan peraturan keimigrasian ketat terhadap orang Cina, sehingga hanya mereka yang memiliki surat sah saja yang bisa menetap di Batavia.

Sejak tahun 1690, migrasi orang Cina makin meningkat hingga jumlahnya mencapai 50% dari seluruh penduduk kota. Mereka didominasi oleh kaum miskin yang mencoba mengadu nasib di Batavia. Beberapa usaha yang dilakukan VOC untuk mengurangi arus migran Cina antara lain wajib lapor dalam waktu 14 hari kepada Kapten Cina (1683), denda sebesar 10 rijkdaalders bagi nahkoda jung yang memasukkan orang Cina, awak jung dilarang menginap di darat, membatasi jumlah penumpang (jung besar hanya boleh membawa 100 penumpang dan jung kecil 80 orang), sampai tahun 1740 dibuat rencana untuk memindahkan kelebihan penduduk ke Srilanka untuk dipekerjakan di perkebunan. Namun muncul kabar angin orang Cina yang diangkut, dibuang ke laut di Kepulauan Seribu.

Tahun 1740 Gubernur Jendral Valekenier dengan persetujuan Dewan Hindia (Raad van Indie) mengeluarkan keputusan yang intinya semua orang Cina yang dicurigai (meskipun memiliki surat-surat yang sah) akan ditangkap dan dikirim ke Srilangka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC. Namun keputusan itu kemudian justru disalahgunakan sebagian pejabat Kompeni untuk memeras orang-orang Cina. Sementara tersiar kabar, banyak orang Cina yang meninggalkan kota dan memberontak. Pembunuhan dan perampokan pun terjadi dan Kompeni yang diperkuat dengan serdadu marinir melakukan serangan balik ke perkampungan Cina. Peristiwa tersebut dikenang sebagai Chinezenmoord.

Diduga pemberontakan pada tahun 1740 juga berkaitan erat dengan pertumbuhan penduduknya yang pesat dan dipicu merosotnya harga gula membuat banyak pabrik tutup sehingga jumlah buruh yang sudah banyak makin tak tertampung. Akibatnya, kriminalitas, pemerasan, korupsi, dan suap untuk penjualan surat ijin tinggal makin merajalela. Kerusuhan yang terjadi menyebabkan perekonomian Batavia hancur. Kondisi ini membuat para pembesar Kompeni membujuk orang-orang Cina untuk bertempat tinggal dan membuka usaha mereka kembali di Batavia, dan berjanji melindungi orang-orang Cina terhadap pembunuhan dan perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Karenanya tentara VOC ditugaskan menjaga keamanan dan ketentraman mereka. Orang-orang Cina ditempatkan di dalam sebuah wilayah atau kampung khusus yang kemudian dikenal dengan nama Glodok.

Demikianlah pembangunan kembali perkampungan orang-orang Cina memakan waktu yang cukup lama, dan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Imhoff (1743 - 1750) keadaan Batavia tenang kembali. Pada tahun 1754 pemerintah Kompeni membuat peraturan khusus ditujukan kepada orang Cina, antara lain izin mendirikan penjara bagi orang Cina, surat izin menetap dan pindah ke suatu tempat. Pada tahun 1786 diizinkan pula mengeluarkan surat nikah sendiri, diberi tugas untuk meneliti tera timbangan dan mengurus izin tempat perjudian.

Adapun jenis permainan judi yang ada pada waktu itu terdiri dari permainan dadu, kartu dan uang logam. Kadang-kadang mereka bermain judi di tepi jalan atau di tempat penginapan orang-orang Eropa. Permainan judi yang terkenal pada waktu itu Top yaitu permainan judi mempergunakan dua buah dadu. Adapun permainan judi yang dilakukan orang-orang Cina diawasi perwira Cina, yang akan mendapat upah 18 % dari seluruh hasil judi. Diperkirakan hasil pemasukkan uang dari permainan judi dan penjualan candu sebanyak 45.000 Rzjksdealders setahun. Adapun uang yang diperoleh perwira Cina dari permainan tersebut sebanyak 15.000 Rijksdealders (Rida) setahun. Pada waktu pemerintahan Gurbernur Jendral Daendels uang sewa untuk tempat perjudian tersebut dihapuskan.

Sudah menjadi kebiasaan, sejak tahun 1680 setiap tanggal satu tahun Masehi di depan rumah kapten Cina dinaikkan bendera sebagai tanda kesetiaan orang Cina dan peringatan untuk segera membayar berbagai pajak. Kebiasaan menaikkan bendera setiap tanggal satu di kalangan orang-orang Cina disebut Hari Kenaikkan Bendera. Sejak daerah Glodok dijadikan tempat pemukiman orang-orang Cina, mereka membangun tempat tinggal dan tempat peribadatannya berdasarkan atas arsitektur khas Cina. Sampai sekarang bangunan-bangunan tersebut masih tetap ada dan hanya sebagian bangunan tempat tinggal saja yang mereka hancurkan dan dibangun kembali dengan gaya Eropa abad 19 dan 20.

Pada tahun 1870 penduduk Cina tidak hanya tinggal di daerah Glodok , tetapi banyak yang tinggal bersama-sama dengan orang selam (pribumi) di kampung-kampung sambil berdagang. Adapun barang-barang dagangan yang disediakan di warung-warung kampung orang selam biasanya terdiri dari kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, sayur mayur, bumbu masak dan peralatan sehari-hari seperti parang, seligi, arit, cangkul, dan lain-lain.