MRT

MRT

Dinas Perhubungan
Rabu, 24 Maret 2021, 15:34 WIB

Sejak pengoperasiannya diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Maret 2019, Moda Raya Terpadu (MRT) menjadi primadona transportasi publik termodern di Jakarta dan satu-satunya di Indonesia. Nama keretanya, Ratangga, diambil dari kitab Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular, pujangga Kerajaan Majapahit. 

Dengan enam kereta dalam satu rangkaian, Ratangga berkapasitas maksimal 1.800 penumpang. Kecepatannya mencapai 80 kilometer per jam di jalur bawah tanah dan bisa meningkat hingga 100 kilometer per jam di jalur atas tanah.

Riwayat MRT

Rencana pembangunan MRT di Jakarta sudah dirintis sejak 1985. 20 tahun kemudian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa pembangunan MRT sebagai proyek nasional. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saling berbagi tanggung jawab, dibantu dana pinjaman dari Pemerintah Jepang. Setelah desainnya dikerjakan pada 2008-2009, tahap konstruksi MRT dimulai sejak Oktober 2013.

Pembangunan fase pertamanya sepanjang 16 kilometer dengan 13 stasiun, dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. Enam kilometer di antaranya di bawah tanah (underground) yang melalui enam stasiun, yaitu Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia. Sedangkan sepuluh kilometer sisanya merupakan struktur layang (elevated) yang melewati tujuh stasiun, yakni Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, serta ASEAN. Sementara depo kereta berdekatan dengan Stasiun Lebak Bulus.

Pengembangan MRT

Sehari-hari Moda Raya Terpadu dikelola PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT Jakarta) yang berdiri pada 17 Juni 2008. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) inilah yang merancang pembangunan koridor MRT Jakarta Utara-Selatan Fase 2 (Bundaran HI-Kota) dan koridor MRT Jakarta Timur-Barat Fase 3 (Kalideres-Cempaka Baru). Pembangunan MRT Fase 2 direncanakan pada 2020 dan ditargetkan selesai empat tahun kemudian.

Jalur Timur-Barat bakal meliputi wilayah DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat. Khusus untuk wilayah DKI Jakarta akan terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama dari Kalideres hingga Cempaka Baru sepanjang 20,1 kilometer dan tahap kedua dari Cempaka Baru hingga Ujung Menteng sepanjang 11,6 kilometer. Sedangkan tahap pertama terdiri dari dua jalur, yakni jalur layang dari Kalideres sampai Grogol sepanjang sebelas kilometer serta jalur bawah tanah dari Grogol sampai Cempaka Baru sepanjang sembilan kilometer. Sementara itu, tahap kedua seluruhnya adalah jalur layang.

Penumpang MRT

PT MRT Jakarta menargetkan, jumlah  penumpang harian mencapai 100.000 orang pada akhir 2019. Hingga Juli 2019, jumlah rata-rata pengguna MRT Jakarta mencapai 94.824 orang per hari, naik 15,9 persen dari bulan sebelumnya. Ketepatan waktu kedatangan, waktu tempuh, serta waktu berhenti kereta di stasiun MRT mencapai 100 persen dari total 6.159 perjalanan kereta.


Cara Menggunakan MRT

Setelah memasuki stasiun MRT, penumpang dapat membeli Single Trip Ticket (STT) atau Multi Trip Ticket (MTT) melalui loket maupun Ticket Vending Machine (TVM). Sesudah memiliki tiket MRT, penumpang menempelkan tiket (tap in) di gerbang masuk. Lalu penumpang antre di belakang garis aman. Begitu kereta datang, dahulukan penumpang turun, sebelum menaiki Ratangga. Sesampai di stasiun tujuan, penumpang menempelkan tiket (tap out) di gerbang keluar. 

Peta Jalur MRT


Informasi lebih lanjut: https://www.jakartamrt.co.id

Artikel Terkait

Dinas Perhubungan

Dinas yang melaksanakan urusan perhubungan di Ibukota DKI Jakarta.